Bahan Komposisi Beton Dan Cara Mengatasi Kelemahan Beton

Bahan Komposisi Beton Dan Cara Mengatasi Kelemahan – Industri konstruksi berkembang pesat. Perkembangan ini diikuti dengan penemuan-penemuan inovasi bahan bangunan. Untuk mendukung perkembangan teknologi konstruksi yang semakin maju, diperlukan bahan bangunan yang berkualitas dan bermutu tinggi.

Bahan bangunan utama yang memikul beban dan umum digunakan dalam konstruksi adalah beton. Beton memiliki kuat tekan yang tinggi sedangkan kuat tariknya kecil. Oleh karena itu, untuk struktur bangunan, beton selalu dipadukan dengan tulangan baja untuk memperoleh kinerja yang tinggi. Sebagai bahan komposit, sifat-sifat beton sangat bergantung pada sifat masing-masing elemen dan interaksinya.

Unsur penyusun beton terdiri dari pasta semen, agregat halus (pasir) dan agregat kasar (kerikil). Pada beton yang baik setiap butir agregat ditutup seluruhnya dengan mortar, demikian juga ruang antar agregat juga harus diisi dengan mortar. Kualitas pasta mortar semen menentukan kualitas beton dan memberikan komposisi campuran 7-15% sedangkan komposisi agregat adalah 61 – 76%.

Komposisi mortar kurang dari 7% disebut beton tanpa lemak, sedangkan lebih dari 15% disebut beton gemuk. Bahan Komposisi campuran beton dapat dilihat pada gambar berikut.

bahan komposisi beton dan cara mengatasi kelemahan

beton memiliki keunggulan sebagai berikut:

  • Ketersediaan bahan dasar (agregat halus, agregat kasar, air) diperoleh dengan mudah di lokasi setempat.
  • Mudah digunakan karena dapat digunakan untuk berbagai struktur dan beton bertulang dapat digunakan untuk struktur berat.
  • Monolitik dan tidak memerlukan sambungan seperti baja.
  • Dapat dicetak dalam berbagai ukuran dan bentuk.
  • Dapat diproduksi dengan berbagai cara yang disesuaikan dengan situasi sekitar.
  • Konsumsi energi minimal.
  • Ketahanan beton cukup tinggi, lebih tahan lama.
  • Karat, tidak perlu dicat dan tahan api.

Selain kelebihan-kelebihan beton juga memiliki kekurangan yaitu:

  • Berat sendiri besar, 2400 kg/m3.
  • Kuat tarik rendah.
  • Beton cenderung retak.
  • Mutu sangat tergantung pada cara pengerjaan di lapangan.
  • Beton struktur sulit untuk dipindahkan.

Bagaimana Cara Mengatasi Kelemahannya?

Untuk mengatasi kelemahan tersebut dapat dilakukan beberapa cara yaitu: membuat beton mutu tinggi, menggunakan beton bertulang, melakukan perawatan, menggunakan beton pracetak, dan mempelajari teknologi beton. Untuk menghasilkan beton yang baik dan memiliki kekuatan yang sesuai dengan persyaratan konstruksi diperlukan pengetahuan tentang pengolahan beton dan sifat-sifat beton.

Sebelum memulai pengolahan beton, perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang bahan-bahan penyusun beton. Bahan penyusun beton terdiri dari agregat, perekat dan air. Selain pengetahuan bahan bangunan penyusun beton, pengetahuan bahan logam/baja juga sangat diperlukan untuk perkuatan beton.

Bahan Komposisi Beton

Semen

Semen merupakan bahan perekat dan kohesif yaitu bahan pengikat atau perekat. Pengertian semen menurut SII 0013-1981, semen portland adalah semen hidrolik yang dihasilkan dengan cara melumat klinker yang terutama terdiri dari kalsium silikat hidrolik dengan bahan yang biasa digunakan yaitu Gypsum.

Semen bila bereaksi dengan air membentuk pasta semen yang berfungsi untuk merekatkan butir-butir antar agregat sehingga terjadi massa yang kompak. Ada dua jenis semen, yaitu semen hidrolik dan semen non-hidrolik. Semen hidrolik adalah semen yang akan mengeras bila direaksikan dengan air, tahan air dan stabil di dalam air bila dikeraskan.

Semen non-hidrolik adalah semen yang dapat mengeras tetapi tidak stabil dalam air. Bahan semen mengandung empat senyawa kimia utama, yaitu Tricalcium Silkate (C3S) atau 3CaO.SiO2, Dicalcium Silikat (C2S) atau 2CaO.SiO6, Tricalcium Aluminate (C3A) atau 3CaO.Al2O3, dan Tetracalcium Aluminoferite (C4AF) atau 4Ca.Al2O3 . Fe2O3.

Unsur C3S dan C2S biasanya 70-80% dari unsur semen sehingga dominan dalam memberikan sifat semen. Ketika semen bersentuhan dengan air, proses hidrasi berlangsung, dari luar ke dalam. Proses hidrasi awal berlangsung perlahan antara 2-5 jam sebelum dipercepat setelah kulit permukaan pecah.

Pada saat hidrasi berikutnya, pasta semen menjadi gel dan sisa-sisa semen yang tidak bereaksi seperti Kalsium Hidroksida, air dan beberapa senyawa lainnya. Kristal dari berbagai senyawa yang dihasilkan membentuk rangkaian tiga dimensi yang saling menempel secara acak dan kemudian secara bertahap mengisi ruang yang awalnya ditempati oleh air.

Kemudian menjadi kaku dan muncul gaya yang kemudian mengeras menjadi benda padat dan kaku. Pasta semen yang telah mengeras memiliki struktur yang berpori, dengan ukuran yang bervariasi dari yang sangat kecil sampai besar.

Agregat

Agregat memiliki 70 – 75 % dari total volume beton maka kualitas agregat sangat berpengaruh pada kualitas beton. Agregat dibedakan berdasarkan ukuran butir-butirnya, agregat yang memiliki ukuran lebih besar disebut agregat kasar (kerikil, kericak, batu atau split). Dalam praketk dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu:

  • Batu, ukuran lebih dari 40 mm
  • Kerikil, ukuran antara 5 – 4 mm
  • Pasir, ukuran antara 0,25 mm – 5 mm

Untuk menentukan volume yang diisi oleh agregat yang dibutuhkan informasi tentang berat jenis agregat. Agar biaya pembuatan beton berkurang maka perlu diperhatikan ukuran butir maksimum agregat kasar yang tidak terlalu besar dan factor-faktor lain yang mempengaruhi antara lain jarak samping beton, dimensi plat beton yang dibuat, dan jarak bersoh antara baja tulangan beton, yaitu :

  • Ukuran maksimum agregat tidak boleh lebih besar dari kali jarak bersih antar baja tulangan,
  • Ukuran maksimum agregat tidak boleh lebih besar dari 1/3 kali tebal plat,
  • Ukuran maksimum agregat tidak boleh lebih besar dari 1/5 jarak antara samping beton.

Dengan pertimbangan diatas, maka ukuran agregat maksimum untuk beton bertulang umumnya sebesar 10 mm, 20 mm, atau 40 mm.

Bahan Tambahan

Bahan tambah adalah suatu bahan berupa bubuk atau cairan, yang ditambahkan ke dalam pencampuran beton, dengan tujuan untuk mengubah adukan atau betonnya. Pemberian bahan tambah pada sifat untuk memperlambat waktu pengerasan, pengerasan pengerasan, menambah encer, menambah daktalitas, mengurangi pengulangan-pengerasan, mengurangi panas hidrasi, menambah kekedapan, dan menambah keawetan.

Bahan tambah yang digunakan dalam beton dapat menjadi dua yaitu bahan tambah yang bersifat kimiawi (campuran kimia) dan bahan tambah yang bersifat mineral (tambahan). Bahan tambah kimiawi digunakan pada saat pengadukan dan saat pelaksanaan, sedangkan bahan tambah mineral diberikan pada saat pengadukan.

Call Now Button
error: Content is protected !!
Nego Disini